Breaking News

CURAHAN HATI SEORANG SUAMI 😥😥


Rumah masih ramai setelah pulang dari pemakaman, kepalaku masih pusing karena tak bisa menahan tangis melihat jasad terakhir isteriku dimasukkan ke liang lahat. 

Aku makin tak bisa menahan airmata saat melihat anak-anak menangis memandangi orang-orang yg menimbun tubuh ibu mereka. Lama aku diam di pemakaman, mengingat kembali saat isteriku masih ada. Aku ingat semua dosaku, kesalahanku, mulut kasarku, ketidakpedulianku, bahkan yang paling aku ingat membiarkan dia berpikir sendiri tentang keuangan keluarga. 

Aku pikir saat di pemakaman adalah momen tersedih yg aku alami sepanjang hidupku, ternyata itu belum apa-apa. 
Banyak kepiluan-kepiluan lain yg membuatku serasa hancur. Mulai saat malam setelah rumah ini kosong dari pelayat, anak-anak seperti tidak mau tidur tanpa ibunya. Mereka masih menangis sesengukan. Aku hanya bisa memeluk mereka tanpa bisa menyembunyikan kesedihan di wajahku.

Putriku yg berusia 5 tahun beberapa kali berlari kekamar sambil memanggil ibunya. Sepertinya dia lupa bahwa ibunya telah tiada. Kemudian ia keluar lagi dg wajah kecewa. 
Malam berlalu tanpa aku bisa memejamkan mata sedetikpun. Aku memandangi anak-anak yg tidur dg gelisah. 

Sebentar-sebentar terbangun dan putera pertama kami yg berusia 9 tahun ternyata menangis sambil melekatkan wajahnya dibantal.
Adiknya laki-laki berusia 7 tahun udah tertidur, namun sesekali mengigau memanggil ibunya. Sungguh aku tak tenang malam itu. Rasanya rumah ini hampa.

Beberapa hari masih dengan suasana yg sama, masih ada kerabat yg membantu memasak dan menyapu rumah hingga hari ketiga. Masih banyak tetangga yg memeluk dan menguatkan anak-anak. 

Hingga tibalah hari yg membuat aku amat sedih. 
Yaitu hari ketika mereka mulai masuk sekolah. 
Pagi itu mereka semua sudah bangun, aku kebingungan, anak-anakku juga seperti bingung mau berbuat apa. 

Biasanya pagi kami selalu dibangunkan, disuruh mandi dan sholat, disiapkan pakaian, dibuatkan sarapan dan kami berangkat dalam keadaan rapi dan perut yg sudah kenyang. Hari ini semua kami hanya diam. 

Aku meminta anak-anak melihat makanan di kulkas, tapi yg ada hanya bahan mentah. Rumah yg biasanya rapi nampak berantakan. 
Aku pergi membeli sarapan untuk kami berempat. Saat membayar aku kaget uang 50rb tanpa kembalian. Padahal selama ini aku memberi uang 50rb kepada istriku cukup untuk makan kami sampai malam. 

Kadang-kadang aku marah-marah kalau dia minta tambahan. Aku bawa sarapan pulang dan anak-anak sudah menunggu di meja makan. Sudah jam 7.30 biasanya mereka sudah diantar kesekolah semuanya diantar istriku berbarengan, sementara aku baru pulang beli sarapan.

Dalam hati kalau terlambat semoga dimaklumi karna habis kemalangan. Saat mau makan aku tidak tahu dimana piring dan sendok, mengambilkan air dan dimana letak gelas. 
Saking selalu dilayani semua oleh isteri.

Aku makin merasa kacau saat jam sudah menuju jam 8 dan anak2 belum terantar semua. Aku benar-benar kehilangan seorang dewa dalam rumah kami. Inikah yg selama ini dilakukan istriku? Mengapa aku selalu menganggap dia tak ada kerjaan. Selalu menganggap sepele pekerjaan seorang ibu. 

Aku masih linglung di tempat kerja. Masih banyak teman2 yg menghampiri mengucapkan belasungkawa. Hingga aku ditelpon oleh walikelas anak ku yg masih TK katanya anak2 sudah pulang tapi belum ada yg jemput. Aku minta ijin pergi menjemput anak dan jam 12 anakku yg no 2 juga menelpon minta dijemput karna sudah pulang. 

Selama ini aku tak tahu satupun jadwal mereka. Aku hanya bekerja dan tak peduli dengan itu semua. Anakku yg besar pulang jam 2 artinya aku tak bisa kembali ketempat kerja. Sampai di sekolah anakku, aku masih melihat di depan sekolah masih ada bekas darah saat istriku kecelakaan 3 hari lalu, kecelakaan yg serta merta merenggut nyawanya saat menjemput anak sulungku. :'( 

Sampai di rumah anak-anak nampak kelaparan, biasanya dibekali makan dan yang TK katanya biasanya dijemput dan lansung makan dirumah.
Baru kembali jemput abangnya setelah makan. Ternyata aku tak tau manajemen waktu sehebat almarhumah istriku. 

Aku harus ke warung makan lagi untuk pergi membeli makan siang. Begitu pun nantinya makan malam. Sehingga tidak kurang dari 200rb sampai malam. Aku berpikir ini baru 1 hari, bagaimana kalau 1 bulan. Gajiku tidak akan cukup untuk kami berempat. 
Malam ini anak-anak juga mengingatkanku tadi mereka tidak ada yg ngaji karna tidak ada yg mengantarkan ke tempat ngaji mereka. :'( 

Ya Allah 
Indah sekali caramu menegurku, 
Begitu kacaunya hidupku tanpa istriku, 
Keuangan makin amburadul, anak-anak tak terurus, makanan favoritku tidak ada lagi. Rumah dan tanaman seperti hilang aura karna tak ada yang merawat dan membersihkan. 

Aku masih sempat merasa wanita di luaran lebih cantik dari istriku. Andai aku bisa menebus apapun yg telah aku lakukan kepada istriku selama ini aku ingin memperbaikinya.
Aku ingin membantunya, menyayanginya sepenuh hati dan tak akan pernah berkata kasar kepadanya.

Dia begitu lelah setiap hari, tapi sepulang kerja aku masih sering membentaknya. Saat dia minta tambahan belanja aku berkata kasar kepadanya. Dia saat aku jadikan istri rela berpisah dengan anggota keluarga besarnya, hidup susah payah dan sederhana denganku.

Maafkan aku isteriku,
Andai aku bisa menebus semua kesalahanku, satu hari saja Tanpamu kami seperti anak ayam kehilangan induknya. Berserakan. 

Saat sholat aku kembali menangis sejadi-jadinya
Ini sangat berat bagiku apalagi bagi anak-anakku. 
Aku tak tega melihat pakaian anak-anak yang kusut tak terurus, makan yg tak ada yg masak 
dan aku tak tega melihat mereka kekurangan kasih sayang.
Jujur selama ini aku tak dekat dengan anak-anak. Mereka selalu sama ibunya. Aku hanyalah kerja, pulang, tidur dan kerja lagi. Aku tak tau apa-apa tentang urusan anak dan rumah. 

Istriku, aku berdoa semoga lelahmu jadi ibadah, 
semoga semua yg kau lakukan untuk kami membawamu ke syurga, 
Semoga engkau bahagia di alammu.

Kali ini aku benar-benar menangis tersedu-sedu sambil membayangkan wajahmu. Kau tak pernah mengeluh dengan pekerjaanmu, kau tak pernah meminta sesuatu yang aku tak sanggup membelinya. 
Kau jalani semua dengan sabar dan aku merasa belakangan jarang memperhatikanmu. Jarang bertanya bagaimana anak-anak kita, jarang bertanya bagaimana hari-harimu.

Engkau ibu yang luar biasa bagi anak-anak kita. Semuanya terlihat saat engkau telah tiada, kemurungan selalu menyelimuti wajah mereka. Mereka sering menangis, mereka sering salah memanggilmu sepulang sekolah. Mereka sering berlari kekamar kita seolah-olah engkau masih ada.

Kekasih hatiku
Mengapa aku jatuh cinta padamu justru setelah engkau tiada. Tidak akan ada yg menggantikan dirimu di hatiku. Mengapa rasa cintaku padamu menggebu-gebu saat dirimu sudah berada di pusara. 

Maafkan aku istriku.
Aku terlambat menghargaimu
:'(

Ilustrasi.  Pinterest.com

No comments

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.